Wilujeng Sumping Di Web Simkuring
kelas 9b
Cara Menjadi Orang yang Positif
3 Bagian:Mengubah Diri Sendiri Menjadi Pribadi yang PositifMemilih Lingkungan yang Berpengaruh Positif bagi AndaMenghindari Pengaruh Negatif
Pada saat kita memikirkan kata “positif”, mungkin banyak di antara kita yang akan teringat kata “bahagia”. Namun, kebahagiaan bukanlah satu-satunya hal yang positif. Ada berbagai cara yang bisa Anda terapkan untuk menjadi pribadi yang positif, sekalipun Anda sedang mengalami kesedihan, kemarahan, atau tantangan.[1] Riset telah membuktikan bahwa kita memiliki kemampuan yang luar biasa untuk memilih emosi dan cara berpikir positif.[2] Selain itu, sudah terbukti juga bahwa emosi ternyata mampu mengubah sel-sel tubuh kita.[3] Apa yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya hanyalah akibat dari cara kita menginterpretasikan dan merespons lingkungan. Kabar baiknya, kita bisa memilih cara lain untuk menginterpretasikan dan merespons lingkungan, alih-alih berusaha menekan atau mencoba “membebaskan diri” dari perasaan negatif.[4] Pada akhirnya, Anda akan menjadi pribadi yang lebih positif dengan banyak berlatih, bersabar, dan berusaha keras agar mampu memilih cara merespons yang baik.
-
1Kenali diri sendiri. Anda bisa mulai mengubah diri dengan berusaha menerima kenyataan bahwa Anda memiliki pikiran dan perasaan negatif. Setelah itu, akuilah bahwa Anda tidak suka dengan cara Anda meresponsnya. Anda tidak bisa mengubah cara berpikir jika Anda tidak bisa (atau tidak mau) mengenali masalah yang sedang terjadi.[5]
- Jangan menilai diri sendiri karena pikiran dan perasaan Anda. Pada dasarnya, tidak ada yang bisa dikatakan “baik” atau “buruk” atas pikiran dan perasaan. Ketahuilah bahwa Anda tidak bisa mengendalikan setiap pikiran yang muncul atau perasaan yang Anda alami. Apa yang bisa Anda kendalikan adalah cara Anda menginterpretasikan dan meresponsnya.
- Terimalah juga apa yang tidak bisa Anda ubah dari diri Anda. Sebagai contoh, orang-orang introver biasanya lebih suka menghabiskan waktu sendirian dan membutuhkan saat-saat tenang untuk “memulihkan diri”. Mereka akan merasa sangat lelah dan tidak bahagia jika harus berusaha menjadi orang ekstrover. Terimalah diri Anda yang sesungguhnya saat ini apa adanya. Dengan demikian, Anda bisa lebih leluasa mengembangkan diri menjadi pribadi yang positif!
-
2Tentukan tujuan. Adanya tujuan membuat kita mampu melihat kehidupan dengan cara pandang yang positif. Riset telah membuktikan bahwa dengan menentukan tujuan, Anda akan langsung merasa lebih percaya diri dan optimis, meskipun tujuan itu sendiri belum tercapai.[6] Anda akan lebih mudah mencapai tujuan dan terus mengembangkan diri dengan menentukan tujuan yang bermakna bagi kehidupan pribadi dan yang selaras dengan keyakinan Anda.[7]
- Mulailah menentukan hal-hal kecil sebagai tujuan. Jangan seperti pungguk merindukan bulan. Tidak usah berpikir yang muluk-muluk. Lebih baik berjalan pelan-pelan, yang penting, Anda bisa mencapai tujuan. Tentukan tujuan secara spesifik. “Menjadi orang yang positif” adalah tujuan yang sangat baik, tetapi tujuan ini terlalu besar. Anda sendiri mungkin akan kebingungan harus mulai dari mana. Oleh sebab itu, cobalah menentukan tujuan yang lebih kecil secara spesifik, misalnya “Bermeditasi dua kali seminggu” atau “Tersenyum kepada orang lain sekali sehari”.[8]
- Nyatakan tujuan Anda dengan kata-kata yang positif. Riset telah membuktikan bahwa tujuan Anda akan lebih mudah tercapai jika Anda menggunakan kata-kata yang positif. Dengan kata lain, tentukan tujuan yang membuat Anda ingin meraihnya, allih-alih menghindarinya. Sebagai contoh: “Berhenti makan makanan yang tidak sehat” bukanlah tujuan yang baik sebab pernyataan ini akan menimbulkan rasa malu atau rasa bersalah. Anda bisa menentukan tujuan yang spesifik dan positif, misalnya “Makan 3 porsi buah-buahan dan sayuran setiap hari”.[9]
- Buatlah tujuan yang bisa terlaksana atas usaha Anda sendiri. Ketahuilah bahwa Anda tidak bisa mengendalikan orang lain. Jika Anda menentukan tujuan yang pencapaiannya tergantung pada respons orang lain, Anda akan kecewa jika keadaan tidak berjalan sesuai harapan. Jadi, tentukan tujuan berdasarkan hal-hal yang mampu Anda kendalikan, yaitu kemampuan Anda sendiri.[10]
-
3Cobalah berlatih meditasi cinta kasih. Meditasi ini disebut juga metta bhavana atau “meditasi cinta kasih” yang bersumber dari ajaran Buddha.[11] Meditasi ini mengajari Anda cara mengembangkan rasa kasih sayang kepada anggota keluarga terdekat dan memperluas perasaan ini kepada orang lain dalam kehidupan Anda sehari-hari. Latihan meditasi ini juga sudah terbukti bisa meningkatkan kemampuan seseorang untuk bangkit lagi dari pengalaman hidup yang negatif dan memulihkan hubungan dengan orang lain hanya dalam beberapa minggu.[12][13] Anda bisa melihat sendiri efek positifnya hanya dengan berlatih lima menit setiap hari.[14]
- Banyak tempat yang menawarkan kursus meditasi cinta kasih. Anda bisa mencari MP3 panduan meditasi di internet. The Center for Contemplative Mind in Society[15] dan UCLA Mindful Awareness Research Center[16] menyediakan panduan meditasi cinta kasih yang bisa Anda unduh secara gratis.
- Meditasi cinta kasih juga bermanfaat bagi kesehatan mental. Penelitian telah membuktikan bahwa meditasi cinta kasih bisa mengurangi gejala depresi dengan asumsi bahwa kemampuan berbagi cinta kasih kepada orang lain akan membuat Anda mampu mencintai diri sendiri.[17]
-
4Buatlah jurnal. Penelitian yang diadakan baru-baru ini membuktikan bahwa memang benar-benar ada rumus matematika untuk kepositifan: tiga emosi positif atas satu emosi negatif akan membuat Anda tetap sehat.[18] Adanya jurnal akan membantu Anda menyadari semua pengalaman emosional yang negatif dalam keseharian Anda dan menentukan apakah pola pikir Anda harus disesuaikan. Selain itu, jurnal juga akan membantu Anda memfokuskan diri pada pengalaman positif sehingga bisa terus Anda ingat.[19]
- Jurnal bukan hanya untuk mencatat hal-hal yang tidak Anda sukai. Riset telah membuktikan bahwa kebiasaan mencatat emosi dan pengalaman negatif dalam jurnal hanya akan memperkuat ingatan Anda tentang hal-hal negatif tersebut sehingga Anda juga semakin merasa negatif.[20]
- Cobalah menulis apa yang Anda rasakan tanpa menilai baik atau buruk. Contoh pengalaman negatif: “Hari ini aku merasa tersinggung waktu teman kerjaku mengejek aku karena berat badanku”.
- Setelah itu, coba pikirkan apa respons Anda. Bagaimana Anda merespons pada saat itu? Apa respons yang Anda pilih saat ini, setelah kejadian ini berlalu? Anda bisa menulis: “Pada saat itu, aku merasa sangat kecewa kepada diriku sendiri dan merasa diri tidak berharga. Setelah aku memikirkan lagi kejadian tadi, aku sadar bahwa temanku mengatakan hal yang tidak berperasaan kepada siapa saja. Penilaian orang lain tidak menentukan siapa aku atau seberapa berharganya diriku selain aku”.
- Cobalah memikirkan bagaimana Anda bisa memanfaatkan pengalaman ini sebagai sebuah pembelajaran. Apa manfaatnya untuk pertumbuhan pribadi Anda? Apa yang akan Anda lakukan jika hal ini terulang lagi? Anda bisa menulis: “Jika lain kali seseorang menyinggung perasaanku, aku akan ingat bahwa penilaian orang lain tidak bisa menentukan siapa aku. Aku juga akan bilang kepada temanku bahwa ucapannya tidak berperasaan dan membuat aku terluka agar aku ingat bahwa perasaanku adalah yang terpenting.”
- Jangan lupa menulis hal-hal positif juga dalam jurnal Anda! Sediakan waktu untuk mencatat kebaikan hati dari orang yang belum Anda kenal, indahnya matahari terbenam, atau obrolan yang menyenangkan dengan teman agar kenangan ini bisa “tersimpan” untuk Anda ingat lagi di kemudian hari. Pengalaman positif ini bisa mudah terlupakan, kecuali jika Anda fokus mencatatnya.
-
5Bersyukurlah secara aktif. Bersyukur bukanlah sekadar perasaan, melainkan sebuah tindakan. Banyak penelitian yang sudah berhasil membuktikan bahwa rasa syukur sangat besar manfaatnya bagi Anda.[21] Bersyukur bisa mengubah cara pandang dengan seketika dan semakin banyak Anda bersyukur, manfaatnya akan semakin besar.[22] Selain itu, bersyukur juga membuat Anda merasa lebih positif, memperbaiki hubungan Anda dengan orang lain, menumbuhkan cinta kasih, dan menambah kebahagiaan.[23][24][25]
- Ada orang-orang yang pada dasarnya memiliki “sifat suka bersyukur” sebagai ungkapan rasa terima kasih yang muncul secara alami. Akan tetapi, Anda bisa menunjukkan “sikap bersyukur” terlepas dari seberapa besarnya “sifat bersyukur” yang sudah terbentuk di dalam diri Anda![26]
- Dalam hubungan dan situasi apa pun, jangan memperlakukan orang lain dengan memosisikan diri Anda sebagai orang yang “pantas” mendapatkan sesuatu darinya. Dengan bersikap seperti ini, bukan berarti bahwa Anda tidak pantas menerima apa-apa dan boleh diperlakukan semena-mena atau tidak dihargai. Ini berarti bahwa Anda harus memperlakukan orang lain tanpa merasa “terikat” oleh hasil, tindakan, atau manfaat tertentu.[27]
- Bagikan rasa syukur Anda kepada orang lain. Berbagi rasa syukur akan membuat perasaan ini semakin “tertanam” dalam ingatan Anda. Selain itu, orang lain yang Anda ajak berbagi juga akan merasa lebih positif.[28] Carilah teman yang bisa Anda jadikan “pasangan bersyukur” dan bagikan tiga hal yang bisa Anda syukuri satu sama lain setiap hari.[29]
- Berusahalah mencari semua hal-hal kecil positif yang terjadi sepanjang hari. Catatlah hal-hal tersebut dalam jurnal, unggahlah foto Anda di Instagram, ceritakan pengalaman positif Anda di Twitter, atau lakukan apa saja agar Anda bisa mengingat hal-hal kecil yang pantas Anda syukuri ini. Contohnya, catatlah jika panekuk coklat Anda matangnya pas, lalu lintas ke kantor tidak terlalu padat, atau ada teman yang memuji penampilan Anda. Catatan Anda akan bertambah banyak dalam waktu singkat.[30]
- Simpanlah hal-hal baik ini. Manusia memiliki kecenderungan lebih mudah fokus pada hal-hal negatif dan melupakan hal-hal positif. Jika Anda mengalami kejadian positif, sisihkan waktu untuk menyadari hal ini dan “simpanlah” di dalam ingatan Anda. Contohnya, jika Anda melihat bunga yang indah pada saat jalan pagi, berhentilah sejenak lalu katakan kepada diri sendiri, “Momen ini benar-benar indah. Aku akan selalu ingat betapa bersyukurnya aku karena bisa mengalami momen ini”. Cobalah membuat “gambar” mental dari momen tersebut. Cara ini akan membantu Anda mengingat lagi kejadian tersebut di kemudian hari, jika Anda mengalami masalah atau pengalaman negatif.[31]
-
6Gunakan afirmasi diri. Afirmasi diri terkesan kurang berguna, tetapi riset telah membuktikan bahwa hal ini sangat penting sebab bisa membentuk jaringan saraf baru untuk “berpikir positif”. Ketahuilah bahwa otak Anda senang menggunakan jalan pintas dengan mengikuti jalur yang paling sering digunakan. Jika Anda membiasakan diri mengatakan hal-hal yang mencintai diri sendiri secara teratur, otak Anda akan melihatnya sebagai “norma”.[32] Kebiasaan berbicara kepada diri sendiri dan melakukan afirmasi diri yang positif juga akan mengurangi stres dan depresi, memperkuat sistem kekebalan tubuh, dan meningkatkan kemampuan menghadapi masalah.[33]
- Pilihlah kalimat afirmasi yang bermakna bagi Anda secara pribadi. Anda bisa memilih kalimat afirmasi untuk menunjukkan bahwa Anda menyayangi tubuh Anda, peduli pada diri sendiri, atau untuk mengingatkan tradisi spiritual. Gunakan apa saja yang bisa membuat Anda merasa positif dan tenang!
- Contohnya, Anda bisa mengatakan, “Tubuhku sehat dan pikiranku baik” atau “Hari ini, aku akan bersikap ramah sebaik mungkin” atau “Hari ini, malaikat pelindungku selalu menemani aku sepanjang hari”.
- Jika Anda sedang menghadapi masalah tertentu, cobalah mencari afirmasi positif untuk mengatasi masalah ini. Contohnya, jika masalah Anda adalah bentuk tubuh, cobalah mengatakan, “Aku cantik dan kuat” atau “Aku bisa belajar mencintai diri sendiri seperti aku mencintai orang lain” atau “Aku layak dicintai dan dihormati”.
-
7Tumbuhkan optimisme. Tahun ’70-an, para peneliti pernah mengungkapkan bahwa orang-orang yang memenangkan undian-yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai kejadian yang sangat positif-ternyata tidak merasa lebih bahagia ketimbang orang-orang yang tidak mendapat hadiah undian hanya dalam waktu satu tahun. Hal ini disebabkan oleh proses adaptasi hedonis yang terjadi karena manusia akan kembali lagi kepada “ambang batas” kebahagiaan setelah mengalami kejadian eksternal (yang baik maupun buruk).[34] Akan tetapi, meskipun ambang batas kebahagiaan Anda sangat rendah, cobalah menumbuhkan optimisme secara aktif. Optimisme bisa memperbaiki harga diri, kesejahteraan hidup, dan hubungan dengan orang lain.[35][36]
- Optimisme adalah cara yang kita pilih untuk menginterpretasikan kehidupan. Bersyukurlah atas fleksibilitas otak manusia sebab Anda bisa belajar berbagai cara membuat interpretasi![37] Orang-orang pesimistis akan melihat kehidupan ini dengan cara pandang yang sudah tertanam dan tidak bisa diubah lagi: “Tidak ada keadilan di dunia ini”, “Aku tidak akan pernah bisa mengubah keadaan”, “Hidupku susah dan ini semua terjadi karena kesalahanku”. Orang-orang optimistis akan melihat kehidupan ini dengan cara pandang tertentu yang fleksibel.[38]
- Contohnya, cara pandang seorang pesimistis akan melihat pertunjukan biola minggu depan dengan mengatakan, “Aku tidak bisa bermain biola. Aku bisa gagal dalam pertunjukan nanti. Lebih baik aku main Nintendo saja di rumah”. Pernyataan ini mengasumsikan bahwa keahlian Anda bermain biola adalah bakat alam dan bersifat permanen, bukannya keahlian yang bisa diperoleh karena kerja keras. Pernyataan ini juga mengatakan hal yang mempersalahkan Anda. “Aku tidak bisa bermain biola” mengasumsikan bahwa kemampuan Anda adalah karena bakat alam, bukannya keahlian yang Anda kuasai karena latihan. Cara pandang pesimistis ini juga bisa berarti bahwa Anda tidak perlu berlatih biola karena merasa tidak ada gunanya atau merasa bersalah karena Anda “tidak mampu” melakukan sesuatu. Kedua cara pandang ini tidak ada gunanya.
- Cara pandang optimistis akan melihat sebuah situasi dengan mengatakan: “Akan ada pertunjukan biola minggu depan dan aku belum cukup puas dengan persiapanku saat ini. Aku akan berlatih lebih banyak lagi setiap hari sampai hari pertunjukan dan berusaha tampil sebaik mungkin. Ini yang bisa aku lakukan, tetapi setidaknya aku sudah bekerja keras agar bisa berhasil”. Orang-orang optimistis tidak menyangkal adanya tantangan dan pengalaman negatif, tetapi mereka mampu memilih cara yang berbeda untuk menginterpretasikannya.
- Ada perbedaan besar antara optimisme sejati dan optimisme “buta”. Optimisme buta misalnya: Anda baru pertama kali bermain biola dan berharap langsung diterima sebagai anggota orkestra Erwin Gutawa. Harapan ini sangat tidak realistis dan akan membuat Anda kecewa. Optimisme sejati akan mengakui situasi yang sedang terjadi dan berusaha mempersiapkan diri menghadapi apa yang akan terjadi. Orang-orang dengan optimisme sejati juga menyadari perlunya kerja keras beberapa tahun dan sekalipun mungkin saja Anda tidak diterima bergabung dalam orkestra impian, paling tidak Anda sudah berusaha sebaik mungkin untuk mencapai tujuan.[39]